THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 29 Maret 2009

Ruang Kabut


Kabut masih melayang-layang. Menyelimuti sosok beku yang kehilangan hati. Kehilangan perasaan. Sebuah takdir yang tak mungkin diingkari--itulah yang mengiang dalam pikiranmu. Kau duduk sejuta bungkam, tak peduli sekelebat bayang lalu-lalang di benakmu.


"Inikah aku?"


Matamu mencair, kata-katamu berjatuhan. Kau tatap dirimu yang pudar di antara kabut. Berharap kaki bisa bangkit kembali, namun untuk bernafas pun kau terlalu berat melakukannya.


"Siapa 'kan menolongku?"


Hinggaplah burung gagak di atas bunga kamboja yang wanginya kian menusuk. Menatap dirimu lekat-lekat, lalu terbang kembali.
Kau tahu tak semua yang kau lewati telah usai. Setiap hawa yang kau rasakan, suara yang kau dengar, ucapan yang kau liarkan--kini menagih janjimu. Mustahil kau hidupkan kenyataan, tapi sangat mudah menghidupkan kemustahilan.

"Oh .. "


Kau geram saat melihat kabut menebal merasuki tubuhmu. Ingin rasanya kau lawan segala yang membelenggu, namun penyesalan mengikatmu erat di sini. Di tempat yang dulu begitu kau benci.


Auman srigala memecah keheningan. Kau tersentak. Di depanmu tampak dirimu ketika dulu, yang angkuh akan keburukanmu. Dirimu yang dulu selalu tertawa --namun Tuhan tak mau mengizinkan. Ketika kau bahagia dalam luka yang kau tutupi. Dan sekarang perih menyeruak. Menyeruak lebar sebesar dosa yang kau ukir di hidupmu. Puaskah kau kini?


"Aku ingin pulang!!"

Jeritanmu melolong mengiris langit. Kau kembali menangis, memeluk tanah dingin yang mati. Bayang itu melambai padamu penuh egois. Tak ada gunanya kau kembali, karena kematian adalah pasti.


Dan aku terus mengintipmu di balik pepohonan.




(Bogor, 29 Mar 2009)