Kabut masih melayang-layang. Menyelimuti sosok beku yang kehilangan hati. Kehilangan perasaan. Sebuah takdir yang tak mungkin diingkari--itulah yang mengiang dalam pikiranmu. Kau duduk sejuta bungkam, tak peduli sekelebat bayang lalu-lalang di benakmu.
"Inikah aku?"
Matamu mencair, kata-katamu berjatuhan. Kau tatap dirimu yang pudar di antara kabut. Berharap kaki bisa bangkit kembali, namun untuk bernafas pun kau terlalu berat melakukannya.
"Siapa 'kan menolongku?"
Hinggaplah burung gagak di atas bunga kamboja yang wanginya kian menusuk. Menatap dirimu lekat-lekat, lalu terbang kembali.
Kau tahu tak semua yang kau lewati telah usai. Setiap hawa yang kau rasakan, suara yang kau dengar, ucapan yang kau liarkan--kini menagih janjimu. Mustahil kau hidupkan kenyataan, tapi sangat mudah menghidupkan kemustahilan.
"Oh .. "
Kau geram saat melihat kabut menebal merasuki tubuhmu. Ingin rasanya kau lawan segala yang membelenggu, namun penyesalan mengikatmu erat di sini. Di tempat yang dulu begitu kau benci.
Auman srigala memecah keheningan. Kau tersentak. Di depanmu tampak dirimu ketika dulu, yang angkuh akan keburukanmu. Dirimu yang dulu selalu tertawa --namun Tuhan tak mau mengizinkan. Ketika kau bahagia dalam luka yang kau tutupi. Dan sekarang perih menyeruak. Menyeruak lebar sebesar dosa yang kau ukir di hidupmu. Puaskah kau kini?
"Aku ingin pulang!!"
Jeritanmu melolong mengiris langit. Kau kembali menangis, memeluk tanah dingin yang mati. Bayang itu melambai padamu penuh egois. Tak ada gunanya kau kembali, karena kematian adalah pasti.
Dan aku terus mengintipmu di balik pepohonan.
(Bogor, 29 Mar 2009)
Minggu, 29 Maret 2009
Ruang Kabut
Diposting oleh はすな_HasnaHazu di 03.24 0 komentar
Selasa, 02 Desember 2008
The Lost Country
Aku kembali menghela nafas, dan mencoba menenangkan suasana hatiku yang semakin galau. Kutelusuri keadaan rumah yang sangat menakutkan itu. Kursi, meja, lukisan, semuanya ditata dengan gaya Belanda. Ada patung kuda putih beserta tentara belanda yang sedang menungganginya.
"Haloo ...?! Halo ... !!" sahutku lantang. Namun rumah itu tetap sunyi. Tak berpenghuni. Aku berpikir untuk tidak jadi masuk. Tapi kalau tidak, mau ke mana lagi aku pergi?
Ayolah, tenangkan pikiranmu. Batinku. Ini hanya rumah, hanya rumah. Bukan makam.
Aku menelan ludah untuk kesekian kali, dan kuberanikan masuk ke dalam. Kulangkahkan kakiku sepelan mungkin. Ini benar2 liburan yg menyebalkan. Aku terpisah dari rombongan kemping, dan karena itu hutan, aku tersesat. Aku terus berjalan di hutan hingga malam dan akhirnya sampailah di desa mati ini. Semua rumah nampak kosong, tapi ada satu rumah besar yang masih terlihat berpenghuni--yaitu rumah ini.
Setelah berjalan di dalam rumah itu, di sana terdapat 2 buah kamar. Tempat tidurnya rapi dengan selimut yang terlipat. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur di sana sampai besok pagi.
* * *
Cahaya lampu kamar itu berwarna kuning dan pudar. Kini aku tengah berbaring di kasur dengan ditemani sejuta ketakutan yang terus menyerang. Pintu depan dan pintu kamar sudah kututup. Tak lupa kubalut tubuhku dengan selimut tebal. Di sudut, tampak dua buah lukisan bergambar kuda sedang berlari. Lalu di sebelahnya ada lemari besar, namun isinya kosong.
Aku berbaring telentang, dan beberapa meter di depanku adalah pintu kamar yang tertutup. Entah kenapa rasanya di sana ada yang sedang berdiri. Ah, itu hanya perasaan saja. Kuusahakan untuk menutup kedua mataku sebisa mungkin. Namun ketika kupejamkan, yang terbayang di benakku hanyalah sosok-sosok menyeramkan.
Aku buru-buru membuka mata.
Tiba-tiba kasur yang sedang kutempati bergoncang. Aku duduk, dan kulihat dengan teliti kasur itu. Terus bergoncang. Kukira memang ada yang salah dengan kasurnya, namun saat kuperiksa, ternyata kasur itu memang bergoyang--seperti ada yang mengguncang-guncang!
Dengan panik, aku loncat dari kasur dan terduduk di lantai. Peluh dingin berkucuran di keningku. Nafasku tersengal-sengal. Dan goncangan kasur itu pun langsung berhenti.
Kuperhatikan sekelilingku. Apakah ada yang tidak mau aku tidur di kasur itu? Apakah kamar ini ada penunggunya? Apakah ...
Tep!
Dalam sekejap seluruh ruangan gelap gulita. Mati lampu. Aku berteriak kaget, dan langsung kuambil ranselku. Kukeluarkan semua isi ransel, dan akhirnya kutemukan juga sebatang lilin dan korek api. Untung saja aku membawanya.
Dengan tangan dingin dan gemetar, kunyalakan lilin itu. Dan kemudian, suasana sangatlah menyeramkan. Aku berdiri dengan lilin di genggamanku. saat itu kurasakan bulu kudukku berdiri. Aku merasa ada seseorang di belakangku.
Tiba-tiba, terdengar suara tiupan seseorang dan lilin yang kugenggam langsung mati.
"Piuuh ... !"
Aku terlonjak kaget. Siapa yang meniup lilin ini?! Padahal jelas tidak ada siapa-siapa di sini selain aku.
Kemudian aku nyalakan kembali lilin itu, namun anehnya, lilin itu terus ditiup! Aku berulang kali menyalakannya, namun terus saja seperti ada seseorang yang meniup lilin itu.
"Aaaa ... !" jeritku sambil melemparkan lilin dan korek api itu. Lalu dengan segenap keberanian, aku berlari menuju pintu. Aku harus keluar dari kamar ini. Dari rumah ini.
Tetapi saat aku hendak membuka pintu, pintu itu terkunci. Padahal aku sama sekali tidak menguncinya!
"Tolong! Tolong! Tolong ... !!!" teriakku sambil memukul-mukul pintu. Kurasakan air mata mengalir di pipiku yang dingin.
"Tolooong ... !!!"
Tahu-tahu, pintu itu menghilang. Tembok, kasur, meja, semuanya menghilang. Aku terjatuh. Namun kurasakan itu bukan lantai. Sesuatu yang dingin dan gembur sedang kududuki. Saat kubuka mataku, di atasku terbentang langit malam dengan bulan purnama.
Dan aku tak sanggup lagi untuk berteriak saat kulihat hanya kuburan-kuburan yang ada di sekelilingku.
-Hasna NKh
Diposting oleh はすな_HasnaHazu di 05.43 5 komentar
Label: cerpen
Sabtu, 22 November 2008
Sinopsis Novel "Kisah Para Penghuni Junglecamp"
Saat Libur sekolah, Empat Sekawan—Tika, Tomi, Luna dan Anastasia—pergi berkemah ke Junglecamp—sebuah perkemahan yang jauh—dengan didampingi oleh guru musik di sekolah mereka, Kak Nia. Ketika mengetahui Junglecamp adalah hutan yang benar-benar liar, mereka terlihat senang—karena mereka sangat menyukai segala hal yang berbau misteri. Namun kali ini dugaan mereka salah. Selepas sore hari, Anastasia tiba-tiba hilang secara misterius. Lalu mereka terpaksa mencarinya. Namun ternyata hasilnya samasekali nihil. Dan ketika kembali ke tempat kemah, tenda-tenda merekapun hilang seluruhnya.
Kejadian-kejadian aneh tidak hanya sampai di situ. Mereka mencari pertolongan dan berharap ada pengunjung lain yang mau menolong mereka. Namun yang mereka jumpa hanyalah seorang wanita asing dengan anak perempuannya yang bersikap tidak ramah pada mereka. Mereka melarikan diri dari tenda orang asing itu. Sejak saat itu, mulailah mereka terpisah. Salju tiba-tiba turun dan membuat mereka habis akal—karena di Indonesia tak mungkin turun salju. Puing-puing vila yang dulunya terbakar tanpa alasan jelas, sampai-sampai munculnya zombie-zombie yang menghabisi nyawa para pekemah.
Selain itu, Anastasia yang ternyata ditawan oleh seorang nenek-nenek misterius, mengetahui bahwa Junglecamp menyimpan sejarah kelam.
Banyak peristiwa mengerikan dan menegangkan menimpa Empat Sekawan. Mereka terus-menerus diteror para arwah jahat. Belum sampai di situ—mereka menemukan rumah yang sangat besar dengan keluarga yang serba aneh. Ada apa sebenarnya dibalik semua itu? Mampukah empat sekawan menguak misteri dibalik berbagai kejanggalan para penghuni Junglecamp itu? Mampukah mereka menyelamatkan Junglecamp dan mengirim para arwah jahat itu ke dunia mereka?
Diposting oleh はすな_HasnaHazu di 03.33 0 komentar
Label: sinopsis
